Hiburan Puisi

Dari Ragaku Untuk Jiwaku

Teruntuk jiwaku,

aku tau engkau lelah, aku tau engkau muak, aku tau engkau kecewa.

Tapi,

tidakkah kau bosan,

terus menerus berada disitu.

Tersudut,terpojok diantara sampah-sampah masa lalu,

yang membuatmu lumpuh, yang membuat mu tenggelam di lautan kekecewaan.

Malam tidak akan berubah menjadi terang, tanpa adanya bohlam yang menyala.

Siang tak akan menjadi gelap, jika kau singkirkan penghalang surya.

Lantas

mengapa engkau masih saja setia,

meringkuk menahan dinginnya kenangan,

bersimbah peluh diterjang teriknya keadaan.

Sampai kapan engkau terus meratapi sesuatu yang telah pergih.

Ratapanmu tidak akan mengembalikan masa lalu,

sekalipun ratapanmu mengguncang semesta,

menumpahkan samudra hindia, memadamkan matahari, membakar antartika, merubah buih dilautan menjadi permadani.

Tak akan bisa.

Aku tau apa yang engkau risaukan wahai diri ini.

Jodoh, rezeki dan masa depan?

Seharusnya hal itu tidak membuatmu begini?.

Tak perlu kau pikirkan.

Urus saja yang menjadi urusanmu, jangan kau campuri sesuatu yang telah diurus oleh dzat yang tidak pernah tidur.

Takdir tidak bisa dilawan

takdir tidak bisa dibantah,

takdir tidak dapat ditahan,

sebatas engkau berusaha tetap sang Esa yang berkuasa.

Sesuatu yang melewatimu, itu bukan milikmu, dan sesuatu yang sudah menjadi milikmu pasti ia singgah. Tanpa syarat.

Tak mengapa engkau menangis, tapi tidak untuk menangisi.

Banyak pakar mengatakan menangis menyembuhkan luka jiwa.

Menangislah sesaat untuk menyembuhkanmu.

Setelah itu mari kita berjuang bersama lagi.

Menyusun kembali rencana-rencana yang berserakan, menyatukan kembali kepingan puzzle mimpi. Menelusuri lagi labirin agar tak mati ditikam mimpi.

Engkau tidak sendiri. Ada aku dan mereka. Ada keluarga mu, ibumu, kakakmu, bahkan teman dekatmu.

Jangan sia-siakan doa Ibu mu yang terus ia panjatkan disepanjang sujudnya,

di setiap hembusan nafasnya untuk kebahagiaanmu.

Ada kakakmu, yang selalu berkata “ya udah yang sabar”, “yakin kamu bisa”, “udah tenang aja”, “udah ga pa pa”, apakah itu tidak dapat membangunkanmu.

Ada teman-teman mu yang selalu bertanya “posisi?” lalu bertemu, berkumpul dan berkata “good day dulu”. Apa itu tidak cukup menghiburmu?

Dan ada aku, ragamu yang selalu siap menunggumu kembali, bangkit.

Engkau dan aku menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Jika engkau seperti ini terus, tubuhku akan hancur dimakan kerasnya jaman.

Mari kita memulai kembali, melukis masa depan diatas kanvas gelapnya malam.

***

 

Karya Ernata Trisandi