Artikel

Kebahagiaan Merupakan Mekanisme Untuk Bertahan

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton sebuah podcast dari Vidi aldiano, yang mengatakan bahwa dirinya merasa bersyukur karena memilki sebuah penyakit.

Vidi juga mengatakan bahwa karena penyakitnya itu. Ia jadi lebih dekat dengan Tuhannya dan lebih merasa tenang dan damai.

Hal itu membuat saya teringat tentang buku yang pernah saya baca The route of happiness, yang di dalamnya terdapat isi pemikiran dari Robert Sapolsky seorang pakar ilmu syaraf. Ia mengatakan bahwa kebahagiaan merupakan mekanisme untuk bertahan hidup, yang diturunkan dari generasi ke generasi apapun kondisinya, meski dalam keadaan sulit sekalipun.

Sapolsky menjelaskan “pada saat kita mengamati penderita kanker yang tidak dapat disembuhkan, mungkin akan mendengarkan perkataan dari si penderita, ” Tentu saja saya tidak bahagia karena hidup saya tidak lama lagi, tetapi jika tidak mengidap penyakit kanker, saya tidak akan mengetahui berapa pentingnya persahabatan. Atau, mungkin saya tidak akan menemukan Tuhan. ”

Ternyata meskipun kita sebagai manusia mengidap penyakit yang mematikan sekalipun, kita dapat berfikir seperti itu. Hal itu membuktikan bahwa manusia memiliki strategi menemukan kebahagiaan, bahkan dalam situasi yang sama sekali tidak diduga.

Sejalan dengan apa yang terjadi dengan Vidi aldiano yang justru merasa lebih bahagia, lebih tenang dan lebih merasa dekat dengan Tuhannya. Secara tidak sadar insting manusianya berjalan yaitu menemukan kebahagiaan di saat situasi yang menyulitkan.

Kita juga sering sekali mendengar ketika ada orang yang sedang terkena musibah, mereka selalu mencari sisi positif dari kejadian tersebut. Misalnya ketika seseorang mendapati rumahnya terbakar, tidak jarang kita mendengar “untung aja kita masih diberi keselamatan“. Dan ternyata hal itu adalah sifat alami manusia.