Hiburan Puisi

Terimakasih Ibu

Terimakasih Ibu | Karya Ernata Trisandi

 

Bu, aku lelah.

Izinkan ku meminjam bahumu untuk ku bersandar. Ingin sekali ku menangis di pangkuanmu. Menceritakan semua rasa lelahku. Menceritakan semua gundahku.

Bu, hidup ini engga adil yah…

Aku terus menerus dikhianati hasil, setelah usaha ku yang keras namun hasilnya nihil. Setelah ku bersabar dan bertahan namun akhirnya gagal. Setelah berlari tanpa henti dan dia pun pergih menjauh.

Aku merasa di bohongi, kalimat yang fenomenal “usaha tidak akan mengkhianati hasil”, bagiku terdengar omong kosong, kenyataannya aku terus di khianatinya.

Apa yang ku lakukan, selalu gagal, gagal dan gagal. Kenyataan yang ku terima, selalu terasa menyakitkan. Harapan dan kenyataan bagai timur dan barat, yang tidak akan pernah sejalan searah.

Cita-cita yang hingga kini tidak kunjung tercipta. Cinta yang entah kapan menjadi nyata.

Bu, izinkan ku berbaring sejenak, melepas penat yang terus menerus mendesak kedalam dada. Izinkan ku bersembunyi dari kejaran rasa kecewa dan sakit.

Bangunkan aku bu, disaat semua itu telah pergih. Bangunkan aku, saat fajar harapan bersinar lagi, arah impian kutemukan lagi.

Bu, terimakasih telah bersabar menuntun anakmu ini, yang kian hari termakan waktu.

Bu, terimakasih telah menjadi pendengar semua keluh kesahku

Bu terimakasih telah diam-diam mendoakan ku di setiap sujudmu, di setiap waktu untuk kebaikan anak mu ini.

Bu terimakasih, telah hadirkan cinta dan kasih sayang yang tak lekang oleh waktu.

Sungguh, jika bukan karena doa mu, aku telah tersesat jauh dan tak akan bisa kembali. Aku akan mati tertindih mimpi-mimpi yang tak menjadi nyata. Menjadi debu-debu pengharapan yang tak menjadi nyata.

Jika bukan karena doa mu, langkah ku tidak bisa sejauh ini, pundaku tak akan mampu menahan beban ini. Hatiku tak sekokoh ini.

Jasa mu tak bisa aku ganti dengan apapun. Jikalau bisa ku berikan seluruh isi samudra di lautan untuk mu, itu belum cukup membalas semua jasa mu, pengorbananmu.

Hanya se gelas teh tubruk yang dapat kusajikan untuk mu.

Pahitnya teh bercampur manisnya gula batu, seakan menjadi pelajaran bagiku bahwa, hidup ini pahit, namun dibalik pahitnya hidup ada sebongkah kebahagian yang perlahan akan larut dan membuat manis, adapun teh yang mengambang itu hanya penghalang kecil untuk kebahagian panjang.

Hanya terimakasih dan doa yang mampu ku persembahkan untukmu.