Dasar mulut manusia!
Dasar mulut manusia!. Tulisan ini terinspirasi oleh komentar seorang sepupu yang bilang, “Mbah kalo nonton sinetron jadi pengatur alur cerita sinetronya. ” Seketika itu kami yang mendengarnya, tertawa lepas. Iya juga. Ketika melihat sinetron/film kita seolah tau jalan cerita yang bagus dan berkomentar misalnya dengan kalimat harusnya si A nikah sama si C biar si D gak bahagia. Padahal kalau itu dijalankan di sinetron atau film belum tentu bagus juga, dan penulis skenario punya alasan tidak melakukan yang penonton inginkan.
Dasar mulutnya manusia! haha
Ketika menonton bola pun, komentator bola sibuk berbicara si pemain A harusnya kesana aja, pemain B kenapa tidak menjaga lawannya disana. Ini gara-gara pemain C yang gak siap terima bola dari si A. Padahal kalau si komentator bola disuruh main pun belum tentu bisa masuk Liga Inggris, Liga Spanyol atau Liga Italia. Skill bermain bolanya pun belum tentu lebih bagus dari anak-anak yang rajin berlatih.
Dasar mulutnya manusia! hahah
Kita sering sekali mengomentari perilaku orang sesuai idealisnya kita, sama seperti komentator bola, padahal kalau kita berada diposisi dia belum tentu berperilaku sebaik dia juga. Astagfirullah. Mungkin sesekali saya pun masih begitu jika ada orang-orang yang berperilaku tidak sesuai idealisnya diri saya. Bahkan pernah sampai kesal. Astagfirullah maafkan hambamu ini ya allah.
Dasar mulutnya manusia! hahah
Semakin bertambah usia, banyak bertemu orang, dan berbagai pengalaman, saya sedikit demi sediki mulai paham dan membiarkan orang lain melakukan apa pun yang mereka inginkan. Berbicara apa pun yang mereka inginkan. Saya berpikir, pasti jika apa yang dia lakukan tidak sesuai norma-norma, berarti bisa jadi Allah menutup hati dan pikiranya. Ketika dia jatuh dan mendapatkan karmanya, berarti Allah sedang memberikan kode-kode untuk dia belajar.Sekarang sudah mikir sesimple itu.
Jika ada kesempatan atau dia membuka diri untuk berdiskusi dengan saya, barulah saya kemukakan komentar idealis saya. Sudah tidak ada lagi perasaan memaksa dia untuk mengikuti apa yang saya sarankan, bisa jadi juga saran saya tidak baik bagi dia, jadi sebagai orang yang diajak diskusi hanya memberikan komentar sesuai konteks saja. Siapa saya dan sehebat apa saya sehingga memaksa orang lain mengikuti nasehat saya? Iya kan ?
Mulut tidak bertulang, tidak sebesar kaki juga, tapi efeknya dasyat sekali. Bisa memasukan kita ke dalam neraka. Astagfirullah. Naudzubillahi min dzalik. Semoga allah memberikan kita jalan yang lurus, sehingga terhindar dari ucapan-ucapan yang menyakitkan hati orang lain.
Dasar mulutnya manusia! Mudah sekali berkomentar buruk atau menyakitkan
SelfReminder.