Sebuah Cerita Cinta Ucapkanlah Kasih
Ucapkanlah kasih
Satu kata yang ku nantikan
Sebab ku tak mampu membaca matamu
Mendengar bisikmu
Nyanyikanlah kasih
Senandung kata hatimu
Sebab ku tak sanggup
Mengartikan getar ini
Sebab ku meragu pada dirimu
Mengapa berat
Ungkapkan cinta
Padahal ia terasa
Dalam rindu dendam
Hening malam
Cinta terasa ada
Lantunan lagu Ada Cinta dari Acha Septriasa aku pilih untuk didengarkan, sebagai backsound dari kehidupan percintaanku. Wajah lelaki yang kucinta mulai muncul di pikiranku dan membuatku bertanya-tanya. Jika memang dia tidak ada perasaan apa pun padaku, kenapa dia selalu hadir menyapa mengapa tidak membiarkanku menjauh darinya. Jika memang benar dia tidak menginginkanku, kenapa dia harus memikirkan dalam-dalam pernyataan perasaanku padanya. Apa karena aku lebih tua darinya tiga tahun atau karena apa ? Jika memang dia punya perasaan kepadaku kenapa tidak diungkapkan saja? Ada apa?
*****
Dia seorang laki-laki yang mencuri perhatianku, adik tingkatku di kampus. Saat aku semester tujuh tahun 2009, dia semester satu di kampusku. Meskipun berbeda tiga tahun, tetapi aku mengetahui dirinya hanya saja mungkin dia tidak mengenalku. Saat itu dia cukup terkenal di kampus karena aktif berkegiatan.
Di tahun 2013 aku dan dia terlibat acara bareng, menjadi panitia Reuni Kampus dari angkatan pertama hingga angkatan terakhir. Aku sebagai perwakilan alumni dan dia sebagai anggota organisasi kampus. Kami hampir setiap hari bertemu untuk mempersiapkan acara Reuni ini, kurang lebih tiga bulan kami bersama. Hal ini membuatku makin mengenal sosoknya yang memiliki bakat menjadi pemimpin yang baik sehingga teman-temannya menghormati dia. Kurasa banyak juga panitia reuni ini yang menaruh hati padanya, bahkan ada yang terang-terangan mengungkapkan tetapi belum juga diterima. Katanya dia ingin fokus ke kuliah supaya cepat selesai. Iya, saat itu dia sedang di semester delapan mempersiapkan sidang skripsinya.
Setelah acara reuni selesai, aku masih sesekali kontak teman-teman panitia termasuk dia, hanya untuk sekedar jalan bareng, makan bersama atau main di timezone. Sempat juga semua panitia Reuni mengadakan buka puasa bersama dan untuk pertama kalinya aku menggunakan hijab. Dia tidak banyak komentar saat itu, tapi mulai berkomentar saat foto buka puasa bersama diposting ke facebook, dia menuliskan komentar di foto itu, “Teh Nika mirip Dian Pelangi.” . Aku yang saat itu sudah menaruh hati padanya, jelas merasakan bahagia karena Dian Pelangi merupakan icon hijab di Indonesia. Dalam chat selanjutnya, aku membaca dia membuka hati untukku dan baru ku tahu dia tidak mau dipanggil nama Hansa, tetapi mau dipanggil dengan sebutan Bang Hansa. Baiklah aku akan mengikuti apa maumu, begitu dalam hatiku.
Semenjak buka puasa bersama itu, aku dan Hansa jadi makin sering berbincang di BBM. Mulai dengan saling komentar status atau pun memang ada bahasan skripsi dia. Makin lama kami makin intens, rasanya hampir tiap hari kami berbincang apa pun. Semakin mengenalnya aku semakin kagum dan memiliki perasaan lebih padanya. Dia memang sosok yang aku dambakan menjadi pendampingku.
Setelah dia lulus siding skripsi tahun 2013 dia bekerja di Surabaya menjadi salah satu staff IT sebuah perusahaan disana akhirnya bisa dibilang kita LDR (Long Distance Relationship). Tiap kali dia datang ke Cirebon, dia mengabariku dan diusahakan untuk bertemu. Meskipun hanya sebentar.
Di tahun 2014 aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang kurasakan padanya melalui yahoo messenger (YM). “Aku suka sama kamu, Bang. Kamu gimana? Bisa gak kita lebih dari sekedar teman?” Pada suatu malam aku mengirimkan dia pesan ini. Dia kaget, dan meminta waktu satu hari untuk memikirkan jawabanya. “Baiklah, silahkan dipikirkan dulu, aku tunggu jawabanmu, “ begitu balasan YM ku.
“Nik, “ dia memanggilku di YM. Sengaja aku dipanggil nama saja, tidak ingin dipanggil Teteh (kakak dalam bahasa Indonesia), karena aku memanggil dia Bang, dan agak aneh jika dia manggil aku Teteh. Menurutku dari bagaimana dia ingin dipanggil menunjukan dia tidak ingin terlihat perbedaan umur aku lebih tua darinya. Sepengatahuanku, dia tidak melakukan ini pada teman-teman seumuranya atau lebih tua darinya. Dia tetap dipanggil nama, karena semua teman-temanya memanggil dia Hansa kecuali adik tingkatnya. Maka dari itu aku cukup percaya diri untuk mengungkapkan perasaanku, karena aku merasa dia memberikan lampu hijau untuk hubungan kita naik level.
“Ya?” jawabku singkat.
“Aku betul-betul memikirkan jawaban ini sampai tidak tidur semalaman, “ jawabnya menjelaskan apa yang dia alami. Kebetulan aku mengungkapkan perasaanku di hari Jumat malam, sehingga dia bisa begadang karena Sabtu dia libur.
“Terus, gimana?” jawabku lagi
“Maaf, aku gak bisa lebih dari teman denganmu. “ jawabnya di YM.
“Oh, gak apa-apa, namanya perasaan gak bisa dipaksain, “ aku mencoba menjawab setenang mungkin, walaupun ada perasaan sedih dan lainnya menjadi satu. “Tapi kenapa sampai tidak tidur semaleman ya kalau jawabanya “gak” ?” aku sangat penasaran, jika memang aku tidak berarti apa pun untuknya, dia bisa sangat mudah menjawab “Tidak”.
“Iya, karena ada hal-hal yang aku pertimbangkan, “ begitu penjelasanya. Meskipun kecewa aku menangkap, permasalahan usia dan ekonomi menjadi pertimbanganya, karena saat itu aku berusia 26 dan dia 23 tahun yang baru merintis karir.
*****
Singkat cerita, meskipun dia menolakku, dia tetap menghubungiku secara rutin. “Kenapa sih masih menghubungiku, padahal jelas-jelas kamu menolakku?” kalimat yang sudah ku ketik di YM tapi tidak jadi ku kirimkan, aku takut dia malah menjaga jarak. Saat itu aku berpikir sebuah pernyataan cinta tidak lagi penting, ketika dia masih mengharapkanku di hidupnya dan dia pun tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Aku tahu ini dari teman-teman dekatnya. “Hansa enggak punya pacar, Teh. Dan keliatanya dia suka sama Teh Nika, dari tatapannya keliatan, tapi malu untuk mengungkapkan,” begitu kata teman-temanya. Huft! Lelaki ini sungguh membingungkanku.
“Nik, besok aku ke Cirebon, kita ketemuan ya, tapi sama teman-teman yang lain juga. Gimana bisa gak ?” Tanya dia pada suatu hari.
“Ok, nanti ketemu dimana?” tanyaku
“Timezone, “ jawabnya.
Saat pertemuan tiba, aku dan dia lebih banyak ngobrol, dibanding dengan teman-teman yang lain. Kami seperti melepas rindu yang lama terpendam. Serasa kita jalan berdua tidak bersama teman-teman yang lain, sampai akhirnya ada yang iseng “Ehem, kita gak dianggep nih, dunia serasa milik berdua ya,” sontak aku dan Hansa kaget, dan salah tingkah. Mau tidak mau akhirnya kami berdua ikut berbaur dengan yang lain.
Disaat Hansa ke toilet, aku iseng bertanya ke teman-teman, “Hansa bilang gak kalau aku ikut hari ini ?” Mereka serentak menjawab, “Gak. Kita juga kaget, Teh Nika ikutan acara hari ini, “ Makin membingungkan saja si Hansa ini.
“Oh, begitu. Maafin aku ya jadi ikut nimbrung dengan kalian, “ jujur aku merasa tidak enak dengan teman-teman yang lain.
“Enggak apa-apa, Teh. Santai aja, “ Nunu salah satu temanku mencoba menenangkanku. Dari hari itu aku makin jelas menangkap sinyal perasaan dia kepadaku, terlebih saat aku menghadiri acara wisuda tahun 2014 dan ada ibu bagian keuangan di kampus bilang “Nika, mana cowokmu? Gak datang di wisuda hari ini ?”
“Siapa, Bu? Aku enggak punya cowok kok.”
“Hansa..” jawab beliau.
“Hah?” jawabku kaget. “Kata siapa Hansa pacarku?” aku sangat penasaran kenapa bisa ada berita seperti itu.
“Teman-teman Hansa di organisasi bilang begitu, dan keliatan di facebook kalian suka saling komentar-komentar kayak orang pacaran, “ begitu penjelasan ibu Ina. Sontak aku langsung tersipu malu, dan menjadi salah tingkah, “hhm eng..enggak bu, kita gak pacaran kok, cuma temen,” jawabku dan buru-buru langsung menjauhi bu Ina.
Sepulang dari acara wisuda, aku langsung chat dia, “Bang, tadi orang kampus menyangka kamu dan aku pacaran, haha, “ begitu chatku pada Hansa yang saat itu sudah pindah ke Jakarta dan tidak menghadiri acara wisuda. Sejujurnya aku berharap kali ini dia benar-benar mau mengungkapkan perasaanya.
“Kok bisa?” jawab dia singkat
“Gak tau, dapat kabar darimana, “ jawabku sambil berharap dia mengatakan sesuatu yang kutunggu-tunggu.
“Aku sih mengamini beritu itu, hehe “ jawabku. Kemudian dia hanya menjawab dengan emoticon tertawa saja. “It’s ok, “ ucapku lirih setelah melihat emoticon itu.
Ucapkanlah kasih
Satu kata yang ku nantikan
Sebab ku tak mampu membaca matamu
Mendengar bisikmu
Nyanyikanlah kasih
Senandung kata hatimu
Sebab ku tak sanggup
Mengartikan getar ini
Sebab ku meragu pada dirimu
Mengapa berat
Ungkapkan cinta
Padahal ia terasa
Dalam rindu dendam
Hening malam
Cinta terasa ada
Di dalam kamarku, lantunan lagu Ada Cinta dari Acha Septriasa terdengar merdu. aku pilih untuk didengarkan, sebagai backsound dari kehidupan percintaanku. Wajah lelaki yang kucinta mulai muncul di pikiranku dan membuatku bertanya-tanya. Jika memang dia tidak ada perasaan apa pun padaku, kenapa dia selalu hadir menyapa mengapa tidak membiarkanku menjauh darinya. Jika memang benar dia tidak menginginkanku, kenapa dia harus memikirkan dalam-dalam pernyataan perasaanku padanya. Apa karena aku lebih tua darinya tiga tahun atau karena apa ? Jika memang dia punya perasaan kepadaku kenapa tidak diungkapkan saja? Kalau memang tidak memiliki perasaan apa-apa padaku, kenapa teman-teman dekatnya bilang Hansa punya perasaan padaku? Kenapa , kenapa, dan kenapa ?
****
Di awal tahun 2016 aku dan Hansa benar-benar putus komunikasi. Bahkan aku tidak tahu ketika dia datang ke Cirebon, aku tahu ketika tidak sengaja bertemu. Biasanya dia selalu bilang sehingga aku bisa menjemput atau mengantarkanya ke stasiun. Aku pun tidak tahu pasti apa masalahnya, aku hanya bisa menduga-duga. Chatku pun tidak dibalasnya sampai akhirnya aku menyerah, tidak menghubungi dia lagi.
Tidak berkomunikasi dengannya membuatku lumayan sedih, apalagi keluargaku sudah mulai meminta dikenalkan dengan lelaki calon suamiku. Dia yang aku harapkan sebagai calon suamiku, ternyata bukan jodohku dan malah menjauh.
“Hai, Nik. Apa kabar?” begitu chat BBM-nya padaku, tiba-tiba saja mengontakku lagi di akhir tahun 2016 setelah hampir satu tahun tidak ada kabar.
“Hai, Bang. Alhamdulillah sehat, kamu gimana?” jawabku standar.
“Aku sehat, Alhamdulillah. Aku lagi di Cirebon, bisa ketemu? Ada yang mau aku bicarakan.” Membaca pesan dia seperti itu, hatiku tidak karuan. Seperti semua perasaan jadi satu. Kesal, rindu, marah, dan tentu penasaran. Kemana saja dia selama ini? Kenapa chatku tidak pernah dibalasnya.
“Boleh, ketemu dimana?”
“Kafe di jalan Wahidin jam 12 siang ya”
“Ok.”
Sekitar pukul 12.00 WIB aku sampai di ruangan sesuai yang dia infokan. Dag dig dug, melihat dia menggunakan kemeja biru dan celana jeans, terlihat tidak seperti biasanya. Dia lebih tampan dari satu tahun lalu saat aku terakhir bertemu denganya. Ada perasaan tegang karena ternyata perasaan itu masih ada walaupun sedikit. “Keep calm, Nika,” aku menyemangati diri sendiri, lalu tarik nafas dan menyapanya.
“Hai, Bang,” ucapku sambil menarik kursi di hadapanya.
“Hai, silahkan duduk, “ jawabnya terburu-buru sambil membantu menarik kursi. Sungguh ini pertemuan kami yang paling canggung, terlihat dari kami berdua menahan segala perasaan selama hampir satu tahun tidak berkomunikasi.
“Silahkan pesan menu, “ ucapnya memecahkan kesunyian.
“Oh, iya.” Jujur aku tidak fokus dengan menunya hanya fokus pada kondisi canggung kita berdua. Akhirnya aku hanya memesan es lemon tea.
Selesai aku memberikan menu yang dipesan, kami berdua masih duduk diam tidak ada obrolan apa pun. Aku membuka-buka ponselku, dan dia duduk dihadapanku dengan sesekali menatapku.
“Nik, maafin aku ya, selama setahun ini menjauh darimu, “ akhirnya kalimatnya keluar juga setelah beberapa menit suasana canggung.
“Iya, maafin aku juga, ya” jawabku singkat.
“ Satu tahun ini aku terus berusaha melupakanmu, setelah aku tahu kamu dekat dengan kakak kelas kita di kampus. Tapi ternyata enggak bisa. Kamu masih saja dipikiranku. Jujur aku sendiri enggak paham perasaanku sendiri kepadamu, “ kemudian dia diam dan kepalanya menunduk. Aku berusaha tidak ingin menyela perkataanya. Aku hanya menatapnya sambil menaruh tanganku di dagu. Aku benar-benar penasaran apa yang ingin dia sampaikan.
“Ditambah kita berbeda usia tiga tahun, aku gak mau membuatmu menungguku mapan, aku kasian bila itu harus kamu lakukan. Alasanku menolakmu dua tahun lalu karena aku mempertimbangkan perbedaan umur dan kemapanan kita, “ ucapnya kemudian. “Sekarang aku sudah yakin dengan perasaanku, aku sudah punya pekerjaan tetap, dan ingin memulai hubungan serius dengan mu jika kamu mau, “ tanganya mulai memegang tanganku. “Apa kamu masih dengan dia?” tanyanya dengan tatapan tajam ke arahku.
“Aku tidak pernah pacaran dengan dia, itu hanya asumsimu saja. Kenapa kamu enggak tanya itu ke aku? Kenapa tentang perbedaan umur dan kemapanan kita pun tidak pernah kamu diskusikan? Aku siap menunggu jika kamu benar-benar serius,“ jawabku sambil menarik tanganku dari genggamannya, kemudian meminum lemon tea pesananku yang baru saja datang. Air mataku hampir menetes ketika tahu perasaan dia seperti ini.
“Iya, maafkan aku, aku salah tidak berani berkomitmen denganmu. Soal lelaki itu, aku mendapatkan informasi dari teman-temanku, kata mereka kamu sudah jadian dengan lelaki itu dan aku cukup tahu diri untuk tidak mengusiknya.. Ah?! Kenapa aku bisa termakan berita itu, padahal harusnya aku langsung tanya kepadamu?!” Hansa terlihat kaget dan kesal mendengar penjelasanku.
“Aku masih ada kesempatan buat jadi pasangan kamu?” ucapnya cepat dengan mata berbinar.
“Maaf, “ jawabku lirih. Aku kemudian mengeluarkan undangan pernikahanku dari tas dan memberikan padanya. “Tanggal 07 Januari 2017 aku akan menikah dengan teman SMP-ku. Semoga kamu bisa hadir, “ sesungguhnya air mataku sudah mulai tidak tertahankan. Segera aku mengambil tisu untuk mengusapnya.
“Oh .. “ ucapnya sambil mengambil undanganku, dan kulihat air matanya menetes dan dia berusaha menyekanya. “Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, dan maafkan aku tidak pernah mengungkapkan apa yang aku rasakan padamu, “ Hansa menundukan kepala dan menarik nafas lalu membuangnya dengan keras.
“Terima kasih, Bang. Semoga kamu juga bisa menemukan dan bahagia dengan wanita penggantiku. Maaf, aku enggak bisa lama-lama, calon suamiku menunggu di bawah, maafkan aku tidak pernah paham apa yang dipikiranmu.“ Dia hanya menangguk dan berusaha menahan air matanya. Dengan cepat aku pergi meninggalkan dia dalam kesedihanya.
— Selesai —