Mbah Kakung dan Keberanianya
Kali ini saya akan menceritakan kisah nyata dari Mbah Kakung, seseorang yang memiliki keberanian yang besar. Mbah kakung adalah kakek dari tetangga saya, yang biasa dipanggil Aa Acung. Kebetulan yang menceritakan kisah ini adalah Aa Acung sendiri.
Diceritakan, Mbah kakung lahir pada tahun 1918 dan tinggal di daerah Blok Asinan, Desa Tegalsari, Kecamatan Plered – Kabupaten Cirebon. Saat itu, kondisi desa masih banyak kebun dan belum ramai penduduk seperti sekarang. Lampu jalanan pun masih sedikit belum merata. Maklum masih jaman penjajahan. Oleh karena itu setiap kali ingin bepergian malam entah hendak ke musholah atau kemana pun harus membawa ceplik atau lampu minyak.
Aa Acung menceritakan, pada masa remaja mbah kakung pernah mengalami hal menyeramkan yaitu kakinya diganduli oleh mahluk halus ketika menuju musholah. Waktu itu sekitar pukul setengah enam sore, Mbah Kakung berjalan sendirian menuju musholah untuk mengaji dan sholat Magrib dengan membawa lampu minyak. Sebagai gambaran jarak dari rumahnya ke musholah lebih dari 1 KM dan harus melalui jalan setapak yang gelap gulita.
Awalnya Mbah Kakung berjalan seperti biasa, tetapi lama kelamaan kakinya merasakan berat, seperti diberi beban yang membuat kakinya susah melangkah. Karena dirasa ini mengganggu, Mbah Kakung melihat ke belakang, penasaran dengan apa yang terjadi pada kakinya. Ternyata tidak disangka ada mahluk Wewe Gombel yang memegangi kakinya. Mahluk ini sungguh seram, memiliki ciri-ciri punya taring yang panjang, rambutnya gimbal dan tinggi besar.
Meskipun takut dan tidak bisa lari, Mbah Kakung tetap berusaha untuk ke musholah sambil membaca doa dan ayat kursi. Sepanjang perjalanan Mahluk itu tidak mau pergi, sampai akhirnya kira-kria 200 M mendekati musholah, Mahluk itu hilang dengan sendirinya. Alhamdulillah dengan kegigihan Mbah Kakung, sampai juga di Musholah.
Selain pengalaman diganduli Wewe Gombel, Mbah Kakung juga pernah merasakan diganggu saat ibadah. Waktu itu mbah kakung sudah menikah dan pindah rumah di tengah kota Cirebon. Beliau yang merupakan sosok religius diminta untuk menjadi imam sholat shubuh di Musholah yang berbentuk rumah panggung.
Seperti biasa beliau selalu menyempatkan berdzikir sesudah sholat shubuh sampai beliau merasa cukup di Musholah. Kondisi saat itu Mbah Kakung sendirian di musholah, dan tiba-tiba Mbah Kakung merasakan gempa kecil (lindung) yang cukup lama, tetapi tidak membuatnya berhenti berdzikir.
Beliau tetap tenang dan tidak mengubah posisi duduknya. Setelah berhenti, beliau pulang, dan bertanya pada istrinya, “Bu, tadi ada lindung ya? Bapak merasakan cukup keras. “ Istrinya menjawab, “Enggak Pak, enggak ada lindung kok!” Mbah kakung pun mngernyitkan dahi, hanya bergumam “ hmhmmmm .. ada yang mau mengganggu dzikir saya “
Dari dua pengalaman Mbah Kakung ini, kita bisa mendapatkan pelajaran, Iblis dan anak cucunya akan selalu mengganggu manusia untuk tidak beribadah kepada Allah atau menyesatkan manusia ke jalan yang salah. Hanya orang-orang yang beriman dan bertakwa lah yang bisa menang melawan gangguan mereka ,seperti Mbah kakung ini. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dan selalu dalam lindunganNya. Aamiin.