Hujan dan Kenangan
Selasa, 09 Desember 2014 Pukul 10.30 WIB. Aku berdiri di luar ruangan pemulasaran jenazah Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Aku menatap hujan yang turun saat itu. Petrikornya membawaku kembali ke masa tujuh belas tahun lalu bersama ayah dan ibuku. Kala itu kami bertiga menggunakan motor menerobos hujan, demi merayakan ulang tahunku di sebuah rumah makan di kota Cirebon. Untungnya kami menggunakan jas hujan sehingga tidak terlalu kebasahan.
“Alhamdulillah. Sampe juga.” Ayahku tersenyum senang karena sampai di tempat yang dituju. Ayah dan ibuku bahagia bisa merayakan ulang tahunku –anak tunggalnya–. “Selamat ulang tahun anakku sayang, Cetta Lunara. Semoga sehat selalu dan menjadi anak yang pintar, “ ucap ibuku setelah itu mencium keningku. Ayahku pun mendoakan hal yang sama.
Kini kenangan bersama kedua orang tuaku hanya bisa aku nikmati dalam pikiran. Kebetulan ayahku meninggal dunia saat aku usia delapan belas tahun. Kemudian ibuku meninggal disaat aku berusia dua puluh enam tahun. Kejutan hidupku yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Aku pikir aku akan seperti gadis lain yang bisa bersama kedua orang tuanya hingga memiliki anak. Tetapi tidak. Takdir berkata lain.
“Teh, mau ikut memandikan jenazah ibu?” Seorang petugas mengajakku untuk ikut serta memandikan jenazah ibuku yang berpulang dua puluh menit lalu. Tapi aku tidak mendengarnya. Aku masih asik dengan lamunanku, sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh di pipiku. “Teh, mau memandikan jenazah ibu?” Petugas tersebut mengulang kembali pertanyaannya disertai dengan tepukan di pundakku. Tidak lama kemudian aku tersadar ada seseorang disampingku.
“Oh, Maaf, Bu. Saya tidak tahu ada ibu di sini. Maaf ibu tadi berkata apa?“ Aku bertanya kembali padanya.
“Teteh mau ikut memandikan jenazah ibu?” Ibu berbadan gemuk dan berbaju putih bertanya kembali untuk ketiga kalinya.
“Iya, Bu. Saya mau memandikan jenazah ibu, “ jawabku.
“Mari ikut saya ke dalam. “ Ajak ibu tersebut. Lalu ia berjalan memasuki ruangan. Aku mengikutinya di belakang sambil sesekali menyeka air mata yang tidak henti-hentinya keluar.
“Teh, tolong jangan menangis ya. Kasian ibu.“ Bu Yani –nama petugas yang memandikan jenazah ibu– mengingatkanku. Aku mengiyakan meskipun sulit. Huft!Sekuat tenaga aku menahan air mata agar tidak jatuh lagi. Aku menengadah dan berusaha mengatur nafasku setenang mungkin.
“Ya, Allah kuatkan aku. Astagfirullahaladzim,“ aku bergumam. Berat rasanya menerima kenyataan ini tetapi inilah takdirku yang sudah digariskan oleh Allah Sang Maha Segalanya. Aku harus menerimanya. “Setiap manusia memiliki kontrak hidupnya masing-masing, Cetta. Kontrak hidup ibumu sudah selesai hari ini.” Aku mencoba menguatkan diriku sendiri dan berpikir positif.
“Huft!” Aku melepaskan nafasku dengan keras.
“Teteh, yakin mau memandikan jenazah ibu?” Tanya Bu Yani padaku dengan disertai tatapan iba. “Ikhlaskan ibu, Teh. Ibu sudah tenang, sudah tidak sakit lagi. “ Tanganya menepuk pundaku tanda menguatkan. “Jangan menangis, ya.” Kalimat itu justru membuatku menangis dan memeluknya erat.
“Saya sendirian sekarang, Bu. Tidak memiliki siapa-siapa lagi.“ Tangisku makin menjadi. Air mataku kini membasahi bajunya, dan kurasakan Bu Yani pun menangis.
“Stop!Teteh lebih baik keluar, tidak usah memandikan ibu lagi. Saya paham Teteh sedih, tapi kasian Ibu bila sekarang Teteh menangis terus. Jalannya akan susah dan tersendat.“ Bu Yani melepaskan pelukanku dan menyeka air matanya sendiri. Ia berlalu dari hadapanku, bersiap untuk memandikan ibuku.
“Kuat…! Kuat…! Kuat…!” Aku memotifasi diriku sendiri untuk bisa menerima kematian ibuku dan ikut serta memandikan jenazah ibuku. Butuh waktu beberapa menit untuk menguatkan diriku sendiri.
“Saya siap, Bu.” Aku mendekati Bu Yani yang sedang meletakan kain basah pada tubuh ibuku.
“Pakai sarung tangan ini. “ Bu Yani memberikan sepasang sarung tangan berbahan karet padaku. “Silahkan siram seluruh tubuh Ibu disertai dengan membaca niat memandikan jenazah nawaitul gusla adaa-an ‘an haadzihil mayyitati lillaahi ta’aalaa.” Bu Yani memberi instruksi.Dengan cepat aku melakukanya.
“Silahkan berikan sabun pada tangannya. Saya akan membersihkan bagian mulutnya, “ ucap Bu Yani setelah membasahi jenazah ibuku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mendengar hal tersebut, aku langsung melakukanya. Air mataku jatuh kembali. Teringat tangan ibuku ini yang mengurusi aku semenjak bayi. Betapa aku tidak bisa membalas kebaikan dari tangan ibuku ini. “Silahkan disiram air, Teh!” Bu Yani menginstruksikan kembali padaku. “Tolong, jangan menangis!“ Bu Yani melihat air mataku dan ia mengingatkan kembali.
Sepanjang memandikan jenazah ibuku, perasaanku campur aduk. Sedih sudah pasti, bersyukur juga aku rasakan. Alhamdulillah aku menyaksikan nafas terakhir ibuku dengan tegar tanpa pingsan. Aku punya enam bulan quality time bersama ibu meskipun di rumah sakit. Aku bisa memandikan jenazah ibuku. Karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan sepertiku. Alhamdulillah.
“Akhirnya selesai juga. Alhamdulillah.“ Bu Yani mengucap syukur setelah jenazah ibuku selesai dikafani dan siap untuk dibawa ke rumahku di kota Cirebon. “Teteh silahkan mengurus administrasinya biar bisa segera dibawa pulang. Ruang administrasi ada dekat parkiran. Teteh keluar ruangan ini lalu ke arah sebelah kiri.“ Bu Yani mengarahkan.
“Terima kasih, Bu. “ Aku bersalaman padanya lalu menuju ruangan administrasi.
Beberapa menit kemudian, administrasi pemulasaran selesai diurus, jenazah ibuku segera dimasukan ke mobil ambulance. “Teh Cetta…!” Sepupuku memanggil ketika aku dan asisten rumah tanggaku sedang memasukan barang-barang dan pakaianku ke dalam ambulance . “Teh Cetta, turut berduka cita,ya. Sabar ya, Teh.” Sherline sepupuku memelukku sambil menangis. Huft! Baru saja aku tenang sebentar, kesedihannya membawaku menangis kembali.
“Maafkan ibuku, ya. Barangkali punya salah,” ucapku padanya. Sherline satu-satunya keluargaku di Bandung ini. Ia sangat rajin menjenguk kami di RSHS. Kebutuhanku pun banyak dipenuhi olehnya. Seperti membawakan bajuku ke laundry, membelikan minum, cemilan, dan lainya.
“Iya, Teh.” Sherline kemudian melepaskan pelukanya. “Aku bersyukur Teh Cetta tidak sampai pingsan. Bayanganku dan seluruh keluarga, Teteh pingsan menghadapi ini.“ Sherline melanjutkan, aku hanya membalasnya dengan senyum.
“Mbak Cetta, ayo berangkat, “ assisten rumah tanggaku mengajakku segera masuk mobil ambulance. Aku berpelukan kembali dengan Sherline sebelum memasuki mobil ambulance.
“Teteh berangkat dulu.” Aku meninggalkanya dan masuk ke dalam ambulance. Aku memilih duduk di belakang bersama jenazah ibuku. Asisten rumah tanggaku duduk di bagian depan sebelah pak supir. Pukul 14.00 WIB aku berangkat menuju kota Cirebon.
Hujan lebat menemani perjalananku menuju kota Cirebon. Aku masih tidak bisa membendung air mata. Teringat kembali semua kenangan-kenangan bersama ibu dan bapaku. Rasanya seperti baru kemarin mamahku menemaniku begadang menyelesaikan pekerjaan. Seperti baru kemarin aku dan bapakku bermain gitar bersama setiap sore hari. Seperti baru kemarin kedua orang tuaku merayakan ulang tahunku setiap tahun. Semua berlalu begitu cepat. Delapan belas tahun bersama ayahku dan dua puluh enam tahun bersama ibuku terasa sekejap mata.
Perasaan menyesal pun tak luput dariku. Sebagai anak tunggal, aku merasa belum bisa memberikan yang terbaik. Apalagi aku dalam kondisi belum menikah. Satu hal yang cukup membuatku sedih, ternyata pernikahanku kelak tidak bisa dihadiri oleh kedua orang tuaku.
“Apa rencanamu, Ya Allah?” Aku bergumam sambil menatap jenazah ibuku di keranda. “Mengapa aku ditinggal sendirian di dunia ini?” Aku masih belum paham dengan ujian ini. “Kuatkah dan bisakah aku hidup seorang diri di dunia ini? Siapkah aku menghadapi segala kemungkinan di masa depan?” Aku mulai ragu dengan diriku sendiri. Aku buka kembali buku diaryku. Aku menulis apa yang aku rasakan.
Hidupku tidak seperti orang-orang pada umumnya.
Aku hanya ingin dikuatkan dan dadaku dilapangkan untuk ridho menerima kehendak-Mu.
Bila ujian ini membuat aku menjadi manusia lebih baik, aku ikhlas.
Bila ujian ini membuat aku naik kelas, aku ikhlas.
Aku yakin Engkau telah menyiapkan rencana indah untukku.
Engkau adalah sebaik-baiknya pembuat skenario hidupku.
Setelah hujan, pasti akan ada pelangi indah menghapiriku.
Ayah dan Ibu, semoga kita bisa kumpul kembali di Surga-Nya.
Semoga kita bisa bertemu di alam mimpi.
Sebagai cara melepas rindu.
Menulis membuatku merasa sedikit lega meskipun air mataku masih saja keluar sepanjang perjalanan ini. Hujan ikut menjadi saksi betapa aku rapuh ditinggal kedua orang tuaku. Aku sekarang sendirian, sebatang kara. Tanpa-Mu pasti aku hancur. Kuatkan aku. Kuatkan aku, Ya Rabbi.
Bandung, Desember 2014