Cerita Pendek

Ku Kira ini Rumahku

“Kalian basah kuyup kenapa?!” Pertanyaan pertama yang dilontarkan saat Kim sampai di rumah. Wajar saja, pertanyaan ini diucapkan oleh ibu yang seharian meninggalkan anak-anak untuk mencari makan. Sebuah bentuk kekhawatiran, mendapati empat anaknya basah kuyup di rumah.

Suara tangis mereka begitu keras. Hanya itu yang bisa dilakukan bocah-bocah usia satu setengah bulan, belum bisa menjelaskan apa yang terjadi. Sepertinya dari beberapa menit yang lalu suara nyaring itu terdengar. Kim mendekati anak-anaknya dan berusaha menenangkan bayi-bayinya.

Satu persatu anak-anaknya memilih dan menyedot susu ibunya dengan semangat. Sambil memberi susu, mata Kim berkaca-kaca. Sedih karena satu hari ini Kim belum mendapatkan makanan.  Perutnya terasa sakit. Tenggorokanya terasa kering. Sudah berjalan jauh untuk minta makan kesana kemari tetapi belum ada yang memberi.

“Kreek…” suara pintu terbuka. Tidak lama kemudian, Kim bergegas meninggalkan anak-anaknya dan masuk ke dalam rumah. Sontak anak-anaknya kaget dan menangis bersamaan. Mereka masih ingin susu, walaupun hanya sedikit yang keluar dari Kim.

“Sebentar, Nak, “ Kim berteriak sambil berlari ke arah pintu, ia terburu-buru tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Satu-satunya harapan untuk mendapatkan makanan. Rumah ini termasuk yang rutin memberikannya makan minimal satu hari sekali.

“Tuan dan Nyonya, saya belum makan, saya lapar, “ ucap Kim dengan suara memelas dan sambil menggesek-gesekan tubuhnya ke kaki Sang Nyonya yang sedang berdiri menonton televisi didekat pintu.

Mendengar suara Kim, Sang Tuan bangun dari kursinya lalu , “Sana keluar, jangan disini lagi…!!” Si Kim dilemparnya ke teras rumah dengan agak kencang. Sampai terdengar kaki Kim dan keramik beradu. Entah kenapa, kali ini si tuan dipenuhi rasa emosi dan bergegas mengusir Kim dengan kasar.

“BBBBrrraaakkkk….!!!” Terdengar suara pintu yang ditutup dengan keras.

Seketika air mata Kim jatuh, dan ia berucap lirih, “Kenapa Tuan seperti ini padaku?” Jantungnya masih berdegub kencang karena kaget. Kakinya masih terasa nyeri akibat lemparan tadi. Pikiranya tidak bisa memahami sebab dari semua ini. Kim masih belum mengerti kondisi ini, sebab Tuannya sering memberinya makan dan mengelus-elusnya juga bercanda padanya. Bagi Kim si pemilik rumah adalah tuannya dan rumah ini adalah rumahnya.

“Lho kok dilempar gitu? Kamu marah ?” Ucap nyonya dengan nada tinggi.

“Aku enggak mau Kim dan anak-anaknya tinggal di teras atau masuk rumah. Aku sengaja basahin teras supaya mereka pindah!“ Si Tuan meluapkan emosinya dengan suara yang terdengar hingga ke telinga Kim. Walaupun tidak bisa memahami kalimat Tuannya tapi ia bisa merasakan kemarahan Sang Tuan berasal dari dirinya.

Dan si Nyonya hanya diam mendengar penjelasan suaminya. Sebetulnya ia merasa kasihan kepada Kim dan anak-anaknya, tapi juga malas untuk mengurus kotoranya. Apalagi baunya menyengat hingga ke dalam rumah. Hal ini pun menjadi bahan pertengkaran suami istri ini tepat sehari yang lalu.

“Jangan ngintip mereka dari jendela, nanti enggak mau pergi! Inget mereka hanya kucing liar, bukan kucing peliharaan kita!” Dan Nyonya hanya bisa menuruti apa kata Tuan, daripada suasana makin panas, ia pergi meninggalkan jendela. “Biar enggak ada kucing di rumah kita, jangan kasih makanan apa pun!” Sang Tuan menambahkan. Nyonya hanya mengangguk pertanda mengiyakan perkataan suaminya.

Kim sedih atas kejadian hari ini. Ditambah tidak ada lagi area kering di teras ini. Semuanya basah. Dengan mengikuti instingnya, ia kemudian memindahkan anak-anaknya satu per satu ke suatu tempat. “Ayo Nak kita pergi dari sini. Kita pindah ke tempat yang kering. ” Dengan kaki yang masih nyeri, dan perut yang lapar, Kim sekuat tenaga membawa anak-anaknya pergi. Menggigitnya satu per satu bergantian, walaupun sore itu tiba-tiba turun hujan.