Cerita Hiburan Puisi Renungan

Nilai Sebuah Penderitaan

Penderitaan sejatinya tidak memiliki sebuah nilai, kita sendirilah yang memberikan nilai pada sebuah penderitaan yang kita rasakan. Penilaian itu terjadi dari bagaimana cara kita dalam menghadapi sebuah penderitaan. Sebagai manusia kita tidak akan pernah lepas dari sebuah penderitaan. Distraksi dari luar akan banyak mempengaruhi kondisi kita.

Berbagai perspektif tentang asal usul penderitaan. Perspektif ini bersumber dari berbagai kalangan lapisan, dari ahli, filsuf dan tradisi. Jean Paul Sarte seorang filsuf yang hidup dari tahun 1905 – 1980 menganut faham filssafat eksistensialis menekankan kebebasan individu, tanggung jawab pribadi, dan pencarian makna dalam kehidupan. Buku yang terkenal Being and Nothingness” (“L’Être et le Néant”), yang diterbitkan pada tahun 1943. Menurut Jean Paul Sarte penderitaan bersumber dari kebebasan individu dan tanggung jawab untuk membuat pilihan. Terkadang aktifitas yang dilakukan orang lain menggangu kita.

Dalam prespektif agama, penderitaan sering dikaitkan dengan ujian, peemberisan jiwa dan tebusan dosa. Saat kita mendapatkan sebuah penderitaan, maka sering kali kata yang muncul dalam benak kita apakah penderitaan ini sebuah ujian atau cobaan, atau hasil dari dosa-dosa kita pada masa lampau.

Persepektif Psikologi penderitaan sering dipandang penderitaan sebagai sebuah tantangan untuk kehidupan yang lebih baik dimasa akan datang. Jika dilihat dari segi psikologi klinis penderitaan bersumber dari trauma masa lalu, stress dan gangguan mental.

Persepektif sosial budaya, penderitaan dipandang dari ketidaksamarataan sosial, kedudukan dan struktural dalam masyarakat. Sumber penderitaan ini sering kita alami. Ketika kita scroll tiktok dan melihat anak muda seumuran kita lebih kaya secara ekonomi dari kita, kita jadi sedih dan iri bahkan bertanya kenapa saya tidak seperti dia. Perasaan ini yang disebut memberikan nilai pada sebuah penderitaan. Sebesar apa nilai yang kita berikan, tergantung respon kita terhadap sumber dari penderitaan tersebut.

Akhirnya balik lagi, penderitaan itu tidak memiliki nilai apapun terhadap diri kita. Kita sendiri yang memberikan nilai pada penderitaan itu. Cara yang bisa kita lakukan adalah dengan meningkatkan diri kita. Caranya bisa beragam, ada peningkatan dengan membaca buku yang relevan dengan kondisi kita. Ada yang dengan mulai memilih teman tongkrongan, memperdalam ilmu agama.